Mengubah Krisis Sampah Menjadi Nilai Ekonomi : Kolaborasi Polisentris Hidupkan Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas

Mengubah Krisis Sampah Menjadi Nilai Ekonomi : Kolaborasi Polisentris Hidupkan Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas

13 Jul 2026       63

Yogyakarta - Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) bersama Universitas Sanata Dharma (USD) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang menggelar kolaborasi Workshop Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas di Kampus III USD Maguwoharjo pada Rabu (8 Juli 2026).

Kegiatan yang didukung oleh Lien Environmental Fellowship (LEF) Program Nanyang Technological University (NTU) Singapore ini lahir dari keprihatinan atas problem pengelolaan sampah yang telah melewati titik jenuhnya.

Menurut Ketua Panitia sekaligus Kepala Pusat Studi Lingkungan USD,  Dr. Ir. Achilleus Hermawan Astyanto, kegiatan ini merupakan implementasi dari Memorandum of Understanding (MOU) antara ITY dengan USD. Ia menilai ditengah keterbatasan anggaran daerah dalam pengelolaan sampah, pendekatan birokrasi tradisional (state ecosystem) dinilai tidak lagi mampu berdiri sendiri dalam mengatasi permasalahan sampah. Oleh karena itu, workshop ini dihadirkan sebagai solusi untuk meretas kebuntuan dengan menghadirkan para ahli untuk membagikan pengalaman empiris mereka.

Acara  dibuka oleh Bapak Andreas Prasetyadi, M.Si., Ph.D. selaku perwakilan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) USD dan menyambut baik kolaborasi ini. Dipandu oleh Dr. Agus Suyanto  dari ITY, acara ini mempertemukan tiga  narasumber yang berpengalaman dalam bidangnya.

1. Plastic Credit sebagai Katalis Pendanaan Global

Sesi pertama, Dr. Eng. Ir. Bimastyaji Surya Ramadan, S.T., M.T yang merupakan akademisi dari UNDIP Semarang memaparkan konsep revolusioner mengenai Plastic Credits. Instrumen inovatif berbasis hasil (results-based financing) ini menetapkan bahwa 1 Plastic Credit setara dengan 1 ton metrik sampah plastik yang berhasil dikumpulkan atau didaur ulang. Melalui mekanisme pembiayaan transparan yang diaudit secara independen oleh standar global seperti Verra, Plastic Credits berfungsi sebagai katalis global untuk menjembatani kesenjangan pendanaan infrastruktur daerah sekaligus menjadi wadah bagi sektor swasta dalam memenuhi kewajiban Extended Producer Responsibility (EPR).

"Model komunitas terdesentralisasi memang mengorbankan skala volume total, tetapi mampu menghasilkan kualitas pemilahan yang sangat tinggi sekaligus menjamin keadilan sosio-ekonomis bagi sektor informal," jelas Bimastyaji. 

2. Sukses Transformasi Hulu di TPS Sapu Lidi Bantul

Dari sudut pandang implementasi lokal, Ernastin Maria, S.Si., M.Eng akademisi dari ITY membagikan kisah sukses dari desa binaan ITY di TPS Sapu Lidi Pedukuhan Kanutan, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.

Wilayah yang awalnya kumuh akibat penumpukan sampah, pembakaran terbuka (open burning), serta pembuangan sampah ke sungai, kini berhasil ditransformasikan secara total. Tim Sapu Lidi menggerakkan partisipasi aktif warga melalui edukasi pemilahan mandiri dari rumah serta pemanfaatan limbah organik menggunakan metode ember tumpuk.

Produk akhir berupa Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos kini sukses diintegrasikan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan menyokong ketahanan pangan lokal.

3. Filosofi Perilaku Manusia dan Ekosistem Kampus

Narasumber ketiga, Hendra Michael Aquan, S.Si., MenvMgmt akademisi dari USD memperkuat diskusi melalui analogi mendalam mengenai perilaku manusia terhadap bumi. Ia mengibaratkan manusia sebagai seorang pengembara (traveller) yang difasilitasi sandang pangan oleh tuan rumah (bumi), namun kerap bertindak serakah dengan menguras dan merusak sumber dayanya tanpa memedulikan dampak jangka panjang. Selain refleksi filosofis tersebut, Hendra juga memaparkan model pengelolaan sampah di USD yang berkolaborasi dengan WWF.

Menuju Tata Kelola Polisentris

Sebagai kesimpulan workshop, Dr. Agus Suyanto menegaskan bahwa kunci utama dari keberhasilan pengelolaan sampah berbasis masyarakat terletak pada integrasi berkelanjutan antara "Motivasi dan Kemauan" warga di tingkat tapak dengan dukungan insentif ekonomi sirkular.

Melalui jaringan Bank Sampah yang dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat dan ibu-ibu PKK, nilai ekonomi tersebut menjelma menjadi jaring pengaman sosial yang inklusif, dapat dikonversi menjadi tabungan emas, pembayaran premi asuransi kesehatan seperti BPJS, hingga pembiayaan musiman seperti dana pendidikan anak.

Sinergi polisentris antara akademisi, komunitas lokal, dan sektor industri ini diharapkan menjadi cetak biru (Blue Print) baru tata kelola persampahan yang lebih luas demi mewujudkan lingkungan yang bebas dari pembakaran sampah (zero open-burning) sekaligus berdaya secara finansial. Pertemuan ilmiah multi-perspektif ini sepakat mendorong transisi tata kelola sampah menuju sistem polisentris yang memadukan kekuatan akar rumput dan instrumen keuangan modern. (Agus Suyanto/Editor : Humas ITY)