Atasi Sampah dari Rumah, DLH Sleman dan ITY Sosialisasi Inovasi ‘Mijongan’
25 May 2026 25
SLEMAN – Masalah timbulan sampah rumah tangga di kawasan permukiman padat penduduk Kabupaten Sleman terus mencari jalan keluar. Merespons tantangan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menggandeng Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) untuk meluncurkan gerakan inovasi pengolahan sampah organik berbasis komunitas yang diberi nama Mikrobio Jogangan (Mijongan).
Sosialisasi inovasi ini digelar di Kalurahan Minomartani, Kapanewon Ngaglik, Sleman, pada Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi multipihak yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, komunitas, pesantren, tokoh masyarakat, hingga awak media.
Adaptasi Budaya Lokal di Lahan Padat
Dosen sekaligus peneliti ITY, Dr. Masrur Alatas, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa konsep jogangan (lubang sampah tanah) sebenarnya bukan hal baru. Mengolah sampah organik dapur melalui jogangan adalah kearifan lokal (local value) yang sudah dilakukan masyarakat Jawa sejak zaman dulu.
Namun, di tengah laju urbanisasi, metode tradisional ini terbentur masalah keterbatasan lahan. Di sinilah inovasi 'Mijongan' hadir sebagai bentuk adaptasi lingkungan.
"Dimensi Mijongan ini sangat hemat ruang, ukurannya hanya 35 cm x 35 cm dengan kedalaman 1 meter. Spesifikasi ini sudah sangat mumpuni untuk mengatasi sampah organik rumah tangga sehari-hari. Ini adalah solusi konkret pengolahan sampah di lingkungan yang padat penduduk," terang Dr. Masrur.
Berdasarkan hasil penelitian dan uji laboratorium, bakteri pengurai alami di dalam tanah pada sistem Mijongan mampu bekerja secara optimal untuk membusukkan sampah organik. Tak hanya itu, hasil kandungan NPK (Nitrogen, Fosfor, Kalium) dari Mijongan terbukti mendekati standar SNI, sehingga pupuk kompos yang dihasilkan sangat aman dan berkualitas untuk dijadikan media tanam.
5 Manfaat Nyata ‘Mijongan’
Gerakan Mijongan ini menawarkan lima manfaat utama yang langsung menyentuh aspek lingkungan dan ekonomi masyarakat:
Tuntas dari Sumber: Masalah sampah organik rumah tangga selesai langsung di lingkungan rumah.
Nilai Ekonomi: Pupuk kompos yang dihasilkan memiliki nilai jual.
Ketahanan Pangan: Menjadi media tanam organik yang subur untuk sayuran, buah, hingga bunga.
Dimensi Sosial: Menjadi sarana untuk sedekah pupuk organik kepada sesama.
Kurangi Beban Negara: Meringankan beban kinerja petugas pengelolaan sampah serta Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
Membangun Kesadaran dari Akar Rumput
Sosialisasi masif ini sengaja dibidik sebagai langkah awal untuk memenuhi piramida pengetahuan masyarakat yang paling mendasar. Diharapkan, melalui transfer pengetahuan ini, pemahaman masyarakat akan meningkat, yang kemudian menumbuhkan kesadaran kolektif. Ujung dari gerakan ini adalah terciptanya aksi nyata di mana sampah organik habis di tingkat rumah tangga.
Pihak ITY menegaskan bahwa keterlibatan mereka dalam inovasi ini didasari oleh filosofi luhur Memayu Hayuning Bawono—komitmen untuk menjaga keserasian dan kelestarian dunia. Melalui program hilirisasi hasil penelitian ini, ITY siap mendampingi masyarakat luas demi mewujudkan lingkungan Sleman yang lestari dan berkelanjutan. (Agustina/Masrur/Humas ITY)