Seminar BEM KM ITY : Mempertegas Peran Sektor Pertambangan dalam Agenda Dekarbonisasi Nasional
07 Oct 2026 26
Yogyakarta — Badan Eksekutif
Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta (BEM KM ITY) bersama
dengan Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTP) ITY sukses menggelar
Seminar Nasional bertajuk "From Fossil To Future: Peran Sektor
Pertambangan Dalam Agenda Dekarbonisasi Nasional". Kegiatan ini
dilaksanakan secara hibrid, bertempat di Auditorium Grhatama Pusaka Yogyakarta
serta disiarkan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Acara diawali dengan sambutan dari
Ketua Panitia Seminar Nasional, Fizel, Kepala Program Studi Teknik
Pertambangan, Andi Pranajati, ST.,MT serta Rektor ITY, Prof. Dr. Ir. H. Chafid
Fandeli, MS. Dalam sambutannya, Prof. Chafid Fandeli menekankan pentingnya
pengelolaan pertambangan yang berwawasan lingkungan. Beliau menggarisbawahi
perlunya langkah net zero emission serta pemulihan lahan bekas
tambang melalui penanaman kembali vegetasi lokal yang sesuai. Di sisi lain,
peran mahasiswa dipandang sangat penting untuk membawa perubahan nyata yang
didukung oleh ilmu, data, dan integritas.
Dalam seminar tersebut Dr. Ing. Tri
Winarno, ST.,MT Direktorat Pembinaan Program Mineral dan Baatubara, Direktorat
Jenderal Mineral dan Batubata Kementeriaan Energi dan Sumber Daya Mineral
menjadi keynote speaker. Materi yang disampaikan terkait dengan
"Peran Sektor Pertambangan dalam Agenda Dekarbonisasi
Nasional".
Transisi Energi dan Transformasi Sektor Pertambangan
Hadir sebagai narasumber
pertama, Agung Pratomo, S.T., yang merupakan Manager PLN UP3 Yogyakarta
dan Wonosari memaparkan bahwa proses transisi energi menuju net zero
emission 2060 merupakan upaya bertahap yang tetap harus menjaga
ketahanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan lingkungan. Pengurangan
batu bara dilakukan melalui skema phase down seiring pesatnya
pengembangan energi terbarukan.
Agung menegaskan bahwa sektor
pertambangan memiliki peran strategis ganda: selain sebagai penyedia energi
selama masa transisi, sektor ini juga memasok mineral kritikal (seperti nikel
dan tembaga) yang dibutuhkan untuk pembuatan baterai, panel surya, hingga
infrastruktur energi bersih. Pertambangan sendiri terus bertransformasi melalui
elektrifikasi operasional, pemanfaatan lahan pascatambang untuk PLTS atau
biomassa, serta efisiensi karbon.
Langkah Konkret Dekarbonisasi di Sektor Pertambangan
Narasumber kedua, Ir. Mekka
Riadhah, ST, MAB, IPM, yang merupakan Environmental Sustainability Departement
Head PT Adaro Indonesia. Beliau membagikan pengalaman penerapan dekarbonisasi
berbasis roadmap yang sistematis. Proses ini dimulai dari
pemetaan emisi dan efisiensi rantai operasional hingga inovasi seperti Fleet
Management System, elektrifikasi pompa, penggunaan drone,
pengoperasian kendaraan listrik tambang, dan pembangunan PLTS.
Ir. Mekka juga menekankan
konsep circular economy pada lahan pascatambang, misalnya
pemanfaatan lahan untuk PLTS terapung maupun budidaya biomassa untuk co-firing.
Menurutnya, keberhasilan dekarbonisasi tidak hanya bertumpu pada teknologi,
melainkan juga pada energy management system, budaya inovasi
pekerja, serta komitmen manajemen.
Berdasarkan seminar ini, transisi
menuju energi bersih tidak berarti meninggalkan sektor pertambangan. Dengan
efisiensi energi, digitalisasi, elektrifikasi, dan pemanfaatan lahan
pascatambang secara produktif, sektor pertambangan justru menjadi pilar utama
dalam mendukung terwujudnya agenda dekarbonisasi nasional dan keberlanjutan
masa depan. (Humas ITY/Agustina/Siera)