BANDUNG – Sampah merupakan salah satu permasalahan yang cukup mendasar di Kota Bandung, termasuk di Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo. Sampah yang ada di daerah ini sebagian besar masih belum dikelola dengan baik, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Salah satu jenis sampah yang sulit dimanfaatkan adalah sampah plastik, yang sangat sulit untuk didegradasi oleh mikroorganisme. Hal Inilah yang mengispirasi Tim Dosen Teknik Energi Institut Teknologi Yogyakarta, yaitu Ucik Ika Fenti Styana dan Fifin Hindarti beserta Dosen UP 45 Noviansyah Aridito untuk melirik penerapan teknologi tepat guna mengelola sampah supaya lebih bernilai tinggi untuk masyarakat.

Melalui Program Penerapan Teknologi Tepat Guna Kepada Masyarakat implementasi tahun 2018, ITY melakukan kegiatan bersama Pengabdian Masyarakat yang dibiayai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Sesuai dengan Kontrak Nomor: 156/SP2H/PPM/DRPM/2018. Pada kegiatan ini, ITY menggandeng beberapa mitra, yaitu Bank Sampah Astana Eyang dan Lembaga Pengabdian Masyarakat Cicendo (LPM Kecamatan Cicendo).  Tim Prodi TE ITY menyerahkan 1 unit mesin pirolisis pengolah sampah plastik menjadi minyak untuk bahan bakar, 1 unit mesin pencacah sampah plastik berbahan bakar minyak plastik, 50 unit bak sampah terpilah (recycle dan non recycle) dan 50 unit bak komposterdalam Acara 'Serah Terima dan Pelatihan Program Penerapan Teknologi Tepat Guna Kepada Masyarakat pada tanggal 27-28 Oktober 2018 di Bandung.

Menurut Ucik, alat-alat tersebut dapat memecahkan masalah penanganan timbulan sampah  yang ada disetiap sudut kota yang mana sampah-sampah tersebut menimbulkan aroma yang tidak sedap, sarang penyakit, menyumbat jalannya air sehingga mudah terjadi banjir, serta membuat sudut kota terlihat kumuh. "Alat-alat ini bisa meningkatkan harga jual sampah di kota Bandung; dari Unit Mesin Pirolisisnya bisa menjadikan sampah plastik yang tidak bernilai ekonomis menjadi Bahan Bakar Minyak yang Minyaknya dapat digunakan untuk bahan bakar mesin pencacah sampah plastik, dari Unit Mesin Pencacah dapat menghasilkan cacahan plastik yang berasal dari botol-botol plastik serta gelas-gelas plastik, dari Unit Komposternya bisa menghasilkan kompos dalam hal ini pupuk Organik untuk mengembangkan pertanian dan perkebunan organik, dari Unit Bak Sampah terpilah akan didapatkan sampah yang sudah terpilah, yaitu sampah recycle dan non recycle. Dimana Sampah recycle akan diolah menjadi cacahan plastik yang tujuannya harga meningkat 3 kali lipat lebih mahal jika dibandingkan sampah recycle yang tidak dicacah, dan sampah non recycle akan diolah menjadi minyak bakar”. tambahnya.

Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini dihadiri oleh Ibu Ledia Hanifah, Anggota Komisi X DPR RI yang sangat peduli dengan Pengembangan dan Pengelolaan Sampah.  Dalam sambutannya beliau juga mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Teknik Energi ITY bersama UP 45 melalui Program PPTTG Kemenristek DIKTI.Kegiatan ini memberikan hal positif untuk Pengelolaan Sampah, kotanya bersih, sehat, asri masih dapat bonus yang luar biasa yaitu peningkatan nilai ekonomi masyarakat dari pengelolaan sampah. Adanya kolaborasi dan sinergi antara perguruan tinggi dan Lembaga Masyarakat seperti halnya Bank Sampah dan LPM Cicendo, maka akan  mendorong percepatan tumbuh kembangnya teknologi tepat guna berbasis masyarakat. Disamping itu adanya alat ini juga sangat membantu mempermudah mitra dalam menjalankan Pengelolaan bank sampah untuk menambah nilai ekonominya dan pasarannya.

“Merasa sangat terbantu dengan alat ini, alatnya sesuai dan pas sekali sesuai dengan Program yang dicanangkan Oleh Walikota Bandung dalam pengelolaan Sampah di kota Bandung.” ungkap Ketua LPM Kecamatan Cicendo. Camat Cicendo menambahkan, “alat ini cara mengoperasikannya mudah, belum ada dibenak saya Sampah Plastik bisa dicacah sehingga meningkatkan harga jual limbah botol kemasan plastik, kemudian Plastik yang tak bernilai ekonomisnya bisa jadi bahan bakar untuk mesin pencacah plastiknya. Ini luar biasa sekali bisa dikembangkan di seluruh RT dan RW di Kecamatan Cicendo untuk percontohan kota Bandung kedepannya. Insya Allah”.

Ketua Bank Sampah Astana Eyang tidak hentinya menyampaikan terimakasih, “Terima kasih kepada ITY beserta UP45 dan Kemeristekdikti serta dukungan dari DPR RI khususnya komisi X untuk Teknologi Pengelolaan Sampah yang sekaligus Pengembangan UMKM di Kota Bandung. Kami berharap dengan adanya alat ini akan dapat membantu peningkatan kapasitas produksi cacahan plastik, minyak bakar dari plastik tak termanfaatkan juga produksi kompos dari komposter serta terlaksananya pemilahan sampah menggunakan bak sampah terpilah. Bersih Kotanya, Meningkat Ekonominya. Tim PPTTG TE ITY(*) – ed.nk

Alat pirolisis mengubah sampah plastik non recycle menjadi bbm

Alat pencacah plastik berbahan bakar minyak plastik hasil pirolisis sampah plastik

Unit bak sampah terpilah dan komposter

Go to top