Pada tanggal 7 sampai dengan 24 Mei 2018, salah satu staf pengajar di Program Studi Teknik Kelautan dan 2 mahasiswa, berkesempatan untuk melakukan kajian Bersama dengan kelompok peneliti dari Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelompok peneliti terdiri dari beragam bidang dan latar belakang Pendidikan. Penelitian yang di adakan di Pulau Bawean ini telah memasuki tahun ke empat dari program empat tahun penelitian yang dibiayai oleh kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Program Studi Teknik Kelautan terlibat dalam kajian ini dikarenakan keilmuan dan kerjasama antara Program Studi Teknik Kelautan dan Balai Arkologi yang telah dirintis sejak tahun lalu.

 

Kajian di Pulau Bawean menitik beratkan pada bagaimana Pulau Bawean mampu berperan dan berkembang dalam kehidupan maritime nusantara. Di dalam menjawab pertanyaan tersebut, dicarilah bukti lapangan dan sejarahnya. Kajian-kajian yang dilakukan antara lain adalah kajian lingkungan fisik yang dilakukan oleh Heny Budi Setyorini, S.Pi, M.Si di tahun 2017 yang berkonsentrasi di lingkungan fisik laut, serta Sutanto Trijuni Putro, M.Sc. yang berkonsentrasi di lingkungan fisik darat, utamanya di bidang geologi dan sumberdaya Pulau Bawean yang mendukung perkembangan pelabuhan. Selain kajian tersebut, dilakukan juga kajian arkeologi yang dipimpin oleh Hery Priswanto, S.S. sebagai ketua tim, kajian arkeologi bawah laut, serta kajian etnografi.

Tim penelitian terdiri atas tim darat yang bertanggung jawab mengambil data fisik, arkeologi dan etnografi, serta tim laut berupa tim selam dari Sentra Selam Yogyakarta, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gresik, dan mahasiswa arkeologi UGM yang bertanggung jawab mencari dan mendata shipwreck/bangkai kapal di dasar laut. Penelitian ini juga bekerjasama dengan STIT(Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah) Raden Santri Bawean dalam melakukan sosialisasi hasil kegiatan kepada masyarakat Bawean.

Berdasarkan hajil kajian di tahun ini, ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Pulau Bawean memiliki peran strategis dalam jalur lalu lintas maritime di Indonesia, dilihat dari sumberdaya yang ada dan temuan-temuan arkeologis yang ada saat ini. Diantara temuan arkeologis yang ditemukan di tahun ini adalah: arca Budha yang terbuat dari perunggu, stupika, kapak batu jaman neolithikum, tembikar asing, serta banyak keramik-keramik asing yang ditemukan. Sedangkan temuan shipwreck bawah laut sesuai informasi warga belum ditemukan karena kendala gelombang dan jarak pandang bawah air yang terbatas. Temuan bawah laut berupa shipwreck telah ditemukan dan didata di tahun 2017.

Penelitian ini mampu menunjukkan peranan strategis pulau kecil dalam kaitannya dengan perkembangan wilayah yang lebih luas, selain itu, dalam kesempatan ini, keikutsertaan ITY dan mahasiswa dalam penelitian multidisiplin dan latar belakang institusi memberikan kesempatan baik bagi ITY maupun individu peneliti dan mahasiswa untuk berkembang, menambah pengalaman dan kerjasama, sehingga ITY dapat dikenal oleh khalayak luas dan berkembang lebih besar lagi. 

 

Go to top